Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

KERANGKA TUBUH MANUSIA


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menguji Udara Hasil Pernafasan

A. Judul

Menguji Udara Hasil Pernafasan

B. Tujuan

Mengidentifikasi jenis udara hasil pernapasan pada manusia

C. Rumusan Masalah :

A. Apakah yang terjadi pada batu kapur saat direndam dengan air?

B. Apakah udara hasil pernafasan?

C. Apakah pengaruh udara hasil pernafasan terhadap air kapur?

D. Hipotesis :

A. Kapur akan melebur menjadi larutan kapur, itu dikarenakan batu kapur menyerap air sehingga batu kapur melebur sedikit demi sedikit

B. Karbon dioksida (CO2) merupakan udara hasil pernafasan karena ketika manusia sedang bernafas menghirup oksigen (O2) dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2)

C. Larutan kapur menjadi keruh dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara itu disebabkan karena larutan kapur bercampur dengan udara dari hasil pernafasan atau karbon dioksida (CO2).

E. Alat dan Bahan :

Gelas plastik

Air bersih

Kapur (Gamping)

Sedotan

F. Langkah Kegiatan

1. Membuat larutan kapur dengan cara:

a) Tuangkan air bersih kedalam glas plastic secukupnya

b) Masukkan 100gram batu kapur kedalam air dalam gelas plastic

c) Biarkan beberapa menit sampai semua batu kapur larut kedalam air

d) Endapkan larutan kapur sampai dihasilkan lapisan jernih di atas dan lapisan putih dibagian bawah

e) Pisahkan lapisan air yang jernih dari endapan yang terbentuk dari larutan kapur

2. Masukkan larutan kapur ke dalam glas plastic sebanyak 100cc

3. Ambil sedotan yang tersedia

4. Ambil napas melalui hidung keluarkan lewat mulut dan selanjutnya tiupkan udara dari mulut ke larutan kapur melalui sedotan

5. Amati apa yang terjadi pada larutan kapur tersebut

6. Catatlah hasil pengamatan pada sebuah tabel


F. Data Hasil Pengamatan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LAPORAN PRAKTIKUN BIOLOGI




LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

“MENGUJI UDARA HASIL PERNAPASAN”

DISUSUN OLEH:

1. Nur Rizki Amelina (101 644 010)

2. Kartika RNA (101 644 011)

A. Judul : SISTEM PERNAPASAN

B. Tujuan :

1. Membuktikan bahwa karbondioksida merupakan hasil pernapasan

C. Rumusan Masalah

1. Apa yang terjadi ketika batu kapur dimasukkan kedalam air ?

2. Apa yang terjadi ketika campuran batu kapur dan air didiamkan beberapa menit?

3. Apa yang terjadi setelah larutan kapur ditiup?

4. Mengapa warna air kapur dapat berubah setelah ditiup?

5. Apakah udara hasil pernapasan mengandung gas karbondioksida?

D. Hipotesis

1. Batu kapur menjadi hancur

2. Terbentuk endapan batu kapur atau lapisan putih di bagian bawahdan air yang berwarnajernih (larutan kapur) yang terletak di bagian atas

3. Warna larutan kapur berubah menjadi keruh

4. Karena pengaruh dari udara yang kita tiup

5. Udara hasil pernapasan tidak mengandung gas karondioksida

E. Alat dan Bahan :

1. Air putih

2. Batu kapur

3. Gelas plastik

4. Selang atau sedotan

F. Prosedur kerja

1. Buatlah larutan kapur dengan cara :

a. Masukkan 200cc air bersih ke dalam gelas plastik

b. Masukkan 100gram batu kapur ke dalam air dalam gelas plastik

c. Birkan sampai semua batu kapur larut

d. Endapkan sampai dihasilkan lapisan jernih diatas dan lapisan putih dibawah

e. Pisahkan lapisan yang jernih (larutan kapur) dari endapan yang terbentuk

2. Masukkan larutan kapur ke dalam gelas plastik sebanyak 100cc

3. Ambillah selang yang tersedia

4. Ambil napas melalui hidung keluarkan lewat mulut danselanjutnya tiupkan udara dari mulut ke larutan kapur melalui selang

5. Amati apa yang terjadi

6. Catat hasil pengamatan dlam tabel

E. Data hasil pengamatan

Dari percobaan yang telah dilakukan, telah diperoleh data hasil pengamatan sebagai berikut:

1. Dalam percobaan yang telah dilakukan, ketika batu kapur yang dimasukkan kedalam gelas berisi air, batu kapur tersebut mengeluarkan gelembung-gelembung udara kecil. Hal ini terus berlangsung hingga batu kapur pelan-pelan hancur dan larut dalam air. Dan saat itu suhu air berubah menjadi panas

2. Gelas yang berisi campuran air dengan batu kapur, setelah di diamkan beberapa menit, membentuk endapan batu kapur atau lapisan putih yang terletak dibagian bawah dan air yang berwarna jernih (larutan kapur) yang terletak di bagian atas. Air yang terletak diatas berwana keruh

3. Setelah larutan air kapur yang jernih dipisahkan dari endapan batu kapur dan diletakkan dalam wadah yang berbeda, kemudian air di diamkan sampai benar-benar mengendap setelah itu larutan air kapur tersebut ditiup dengan selang selama sepuluh detik dan hasilnya airkapur yang semula berwarna jernihberubah menjadikeruh.

F. Pembahasan

Dari percobaan diatas, kami telah membuat alat pernapasan sederhanayang bertujuan untuk membuktikan bahwa sistem pernapasan manusia menghasilkan gas karbondioksida. Berdasarkan percobaan yang telahdilakukan, proses pernapasan manusia menghasilkan karbondioksida. Hal ini dibuktikan oleh larutan kapur yang telah di uji yaitu air kapur yang jernih menjadi lebihkeruh setelah ditiup dengan selang atau sedotan.Pada proses pernapasan, oksigen yang dihirup pada saat menarik napas akanberdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh hemoglobin untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh. Hemoglobin yang terdapat dalam butir darah merah atau eritrosit ini tersusun oleh senyawahemin atau hematin yang mengandung unsur besi dan globin yang berupa protein. Hasil pernapasan yang dikeluarkan adalah berupa CO2. Sebenarnya reaksi pernapasan berupa pengolahan O2 menjadi energidan penglepasan CO2 tersebut dilakukan di dalam sel dan terjadi pada bagian yang disebut mitokondria. Peristiwa respirasi di dalam selini disebut pula sebagaa dilakukan agar proses respirasi sel terusberlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel ini berasal i oksidasi. Jadi, organ pernapasan berfungsi untuk mengambil udara pernapasan, menampung, kemudian mendistribusikannya ke seluruh jaringan, serta selanjutnyamengeluarkannya dalam bentuk udara hasil pernapasan. Udara hasil pernapasan selain CO2 adalah H2O (uap air). Oleh karena itulah, apabila kita mengembuskan napas di kaca akan terbentuk titik-titik air.Pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksid dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk kedalam tubuh melalui perantaraan alat pernapasan yang berada di luar. Pada manusia, alveolus yangterdapat di paru-paru berfungsi sebagai permukaan untuk tempatpertukaran gas.Pada udara pernapasan ada udara yang masuk dan ada udara yang dikeluarkan. Susunan atau komposisi udarayang masuk dan udara yang dikeluarkan dalam pernapasan berbeda-beda. Perbedaan komposisikandungan gas dalam udara terdiri atas nitrogen79,01 %, oksigen 20,95 %, carbondioksida 0,04 % dan sisanya adalah gas- gas lain. Sedangkan komposisi gas yang keluar dari udara yang dipernapaskan terdiri dari nitrogen 79,6 %, oksigen 18,6 %, dan karbondioksida 4,0 %. Manusia membutuhkan suply oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut.

G. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan di atas antara lain:

1. Dalam percobaan Ketika batu kapur yang dimasukkan kedalam gelas berisi air, batu kapur tersebut mengeluarkan gelembung-gelembung udara dan perlahan hancur serta larut dengan air.

2. Gelas yang berisi campuran air dengan batu kapur, setelah di diamkan beberapa menit, membentuk endapan batu kapur atau lapisan putih yang terletak di bagian bawah dan air yang berwarna jernih (larutan kapur) yang terletak di bagian atas.

3. Setelah larutan air kapur yang jernih dipisahkan dari endapan batu kapur dan diletakkandalam wadah yang berbeda, kemudian larutan air kapur tersebut ditiup dengan selang.air kapur yang semulaberwarna jernih berubah menjadi keruh

4. Karena jika ditiup dengan menggunakan sedotan berarti udara yang sampai ke larutan kapur itusedikit, namundalam volumeyang tetap. Sehingga zat kapur yang ada dilarutan kapur tersebut mengurai. Sehingga tampaklah larutan tersebut menjadi lebih keruh dibanding dengan sebelumnya.

5. Udara Hasil pernapasan mengandung karbondioksida. Hal ini dibuktikan oleh larutan kapur yang menjadi lebih keruh setelah ditiup dengan selang/sedotan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Membedakan Pewarna Alami dan Buatan

Tujuan: Untuk membedakan pewarna alami dan buatan

Rumusan Masalah:

1. Apakah perbedaan yang menonjol dari pewarna alami dan buatan?

2. Mengapa pewarna buatan dikatakan berbahaya untuk kesehatan tubuh kita?

Hipotesis:

1. Pewarna alami warnanya tidak begitu mencolok sedangkan pewarna buatan warnanya cenderung lebih mencolok.

2. Karena pewarna buatan apabila ditambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan, atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti kanker.

Alat dan Bahan:

1. Kunyit

2. Daun Pandan

3. Pewarna Buatan Bubuk (Kuning&Hijau)

4. Air

5. Gelas Plastik

Langkah-Langkah Kegiatan:

1. Parut beberapa kunyit, kemudian beri air, peras dan saring sarinya.

2. Letakkan air perasan kunyit ke dalam gelas plastik A

3. Ambil pewarna buatan berwarna kuning kemudian larutkan ke dalam gelas plastik B berisi air

4. Amati perbedaan warnanya!

5. Rebus daun pandan kemudian ambil air rebusannya dan letakkan di dalam gelas plastik C

6. Ambil pewarna buatan berwarna hijau kemudian larutkan ke dalam gelas plastik D berisi air

7. Amati perbedaan warnanya!

Data Hasil Pengamatan:

Faktor Pembeda

Bahan Yang Di Uji

Kunyit

Pewarna bubuk (kuning)

Daun Pandan

Pewarna bubuk (hijau)

Warna

Orange kecoklatan

Orange kekuningan

Hijau terang

Hijau tua

Struktur warna

Perbedaan antara partikel zat warna dengan partikel air terlihat agak pisah

Perbedaan antara pertikel zat warna dengan partikel air tidak terlihat (tercampur sempurna)

Perbedaan antara partikel zat warna dengan partikel air terlihat agak pisah

Perbedaan antara pertikel zat warna dengan partikel air tidak terlihat (tercampur sempurna)

Bahan-Bahan yang akan diuji

Gelas Plastik Berisi Air yang Akan Digunakan

Untuk Mencampurkan Zat Warna

Zat Pewarna yang Sudah Tercampur Dengan Air

A. Pewarna Alami (kunyit)

B. Pewarna Buatan (pewarna bubuk)

A. Pewarna Alami (Pandan)

B. Pewarna Buatan (pewarna bubuk)

Inilah Hasil Praktikum yang Kami Lakukan

Pembahasan:

Pada dasarnya baik masyarakat desa maupun kota, pasti telah menggunakan zat aditif makanan dalam kehidupannya sehari-hari. Secara ilmiah, zat aditif makanan di definisikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Disini zat aditif makanan sudah termasuk : pewarna, penyedap, pengawet, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal.

Istilah zat aditif sendiri mulai familiar di tengah masyarakat Indonesia setelah merebak kasus penggunaan formalin pada beberapa produk olahan pangan, tahu, ikan dan daging yang terjadi pada beberapa bulan belakangan. Formalin sendiri digunakan sebagai zat pengawet agar produk olahan tersebut tidak lekas busuk/terjauh dari mikroorganisme. Penyalahgunaan formalin ini membuka kacamata masyarakat untuk bersifat proaktif dalam memilah-milah mana zat aditif yang dapat dikonsumsi dan mana yang berbahaya.

Secara umum, zat aditif makanan dapat dibagi menjadi dua yaitu : (a) aditif sengaja, yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, seperti untuk meningkatkan nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa, dan lain sebagainya. Dan kedua, (b) aditif tidak sengaja, yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.

Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten, asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan manusia.

Beberapa Contoh Zat Aditif

Zat aditif makanan telah dimanfaatkan dalam berbagai proses pengolahan makanan, berikut adalah beberapa contoh zat aditif :

Zat aditif

Contoh

Keterangan

Pewarna

Daun pandan (hijau), kunyit (kuning), buah coklat (coklat), wortel (orange)

Pewarna alami

Sunsetyellow FCF (orange), Carmoisine (Merah), Brilliant Blue FCF (biru), Tartrazine (kuning), dll

Pewarna sintesis

Pengawet

Natrium benzoat, Natrium Nitrat, Asam Sitrat, Asam Sorbat, Formalin

Terlalu banyak mengkonsumsi zat pengawet akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit

Penyedap

Pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar

Penyedap alami

Mono-natrium glutamat/vetsin (ajinomoto/sasa), asam cuka, benzaldehida, amil asetat, dll

Penyedap sintesis

Antioksidan

Butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluena (BHT), tokoferol

Mencegah Ketengikan

Pemutih

Hidrogen peroksida, oksida klor, benzoil peroksida, natrium hipoklorit

-

Pemanis bukan gula

Sakarin, Dulsin, Siklamat

Baik dikonsumsi penderita diabetes, Khusus siklamat bersifat karsinogen

Pengatur keasaman

Aluminium amonium/kalium/natrium sulfat, asam laktat

Menjadi lebih asam, lebih basa, atau menetralkan makanan

Anti Gumpal

Aluminium silikat, kalsium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida

Ditambahkan ke dalam pangan dalam bentuk bubuk

Makanan yang berwarna-warni merupakan daya tarik yang paling utama di kalangan anak-anak. Mereka terkadang tidak memperdulikan bagaimana rasa makanan atau minuman yang ingin mereka beli. Kadangkala aroma yang wangi, rasa yang lezat, dan tekstur yang lembut bisa jadi akan diabaikan jika warna dari makanan itu tidak menarik atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari makanan itu.

Bahan Pewarna Makanan

Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni pewarna alami dan pewarna buatan. Di Indonesia, penggunaan zat pewarna untuk makanan (baik yang diizinkan maupun dilarang) diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 235/MenKes/Per/VI/79 dan direvisi melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai bahan tambahan makanan.

Pewarna alami diperoleh dari tanaman ataupun hewan yang berupa pigmen. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: klorofil (terdapat pada daun-daun berwarna hijau), karotenoid (terdapat pada wortel dan sayuran lain berwarna oranye-merah). Umumnya, pigmen-pigmen ini bersifat tidak cukup stabil terhadap panas, cahaya, dan pH tertentu. Walau begitu, pewarna alami umumnya aman dan tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh.

Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Beberapa contoh pewarna buatan yaitu :

a. Warna kuning : tartrazin, sunset yellow

b. Warna merah : allura, eritrosin, amaranth.

c. Warna biru : biru berlian

Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan segera pudar ketika mengalami proses penggorengan.

Bahan Pewarna Buatan Berbahaya Bagi Kesehatan

Bahan perwarna dapat membahayakan kesehatan bila pewarna buatan ditambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan, atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama. Perlu diperhatikan bahwa pada saat ini banyak pengusaha nakal yang menggunakan zat-zat pewarna berbahaya yaitu zat pewarna bukan untuk makanan (non food grade). Misalnya, pemakaian zat pewarna tekstil atau kulit. Selain itu, terjadi juga penggunaan bahan pewarna buatan dengan dosis tidak tepat. Hal-hal tersebutlah yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.

Perilaku hiperaktif pada anak-anak ternyata terkait dengan pewarna makanan dan pengawet sodium benzoat, sebut penelitian yang diterbitkan “The Lancet”, baru-baru ini. Dampak zat-zat tersebut sangat luas, kata para peneliti. Mereka menyarankan para orangtua mengatur makanan anak-anak mereka, karena langkah itu ternyata cara mudah untuk menangani perilaku hiperaktif.

Para peneliti di Universitas Southampton, Inggris selatan, merekrut 153 balita berumur tiga tahun dan 144 anak-anak berumur delapan atau sembilan tahun. Keduanya dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diberi juice buah biasa dan yang lain diberi minuman yang rasa dan tampaknya sama dengan juice itu, padahal mengandung pengawet. Kedua minuman itu dipasok ke para orangtua dalam botol serupa tanpa keterangan apapun dan tersegel. Kelompok “pengawet” dibagi ke dalam dua grup. Satu grup diberi “Campuran A,” minuman yang mengandung pewarna buatan yang biasa ada dalam permen ukuran dua kantong 56 gram. Grup lainnya diberi “Campuran B”, dengan tingkat pewarna yang lebih tinggi, setara empat kantong permen itu. Kedua minuman campuran itu punya takaran sodium benzoat yang sama. Sebelum percobaan selama enam pekan itu dilakukan, para peneliti minta orangtua dan guru menilai anak-anak mereka dalam segi overaktif, impulsif dan perilaku kurang memerhatikan, yang semuanya adalah ciri-ciri hiperaktif.

Penilaian juga dilakukan oleh para pengamat terlatih (bahkan oleh para sarjana psikologi), yang duduk di kelas dan mencatat perilaku masing-masing anak, sesuai ukuran-ukuran yang berlaku secara internasional. Selama sepekan pertama pecobaan, anak-anak menerima makanan biasa. Setelah itu, semua permen-permen dan minuman yang menggunakan pengawet tidak lagi diberikan, lalu para orangtua diminta menggantinya dengan minuman percobaan dalam botol tersebut.

Takaran minuman yang diberikan kepada anak-anak itu disesuaikan dengan takaran pewarna pada makanan mereka sehari-hari. Para orangtua tidak tahu manakah Campuran A, Campuran B atau juice asli. Enam pekan kemudian, anak-anak itu kembali dinilai tingkat hiperaktifnya. Campuran A memberi efek yang “merugikan secara signifikan” kepada balita usia tiga tahun, meski Campuran B tidak berpengaruh terhadap kelompok itu. Pada kelompok usia 8-9 tahun, Campuran A maupun Campuran B punya efek yang kuat.

Peringatan mengenai zat tambahan pada makanan serta akibatnya terhadap kesehatan anak-anak sudah disampaikan sejak tiga puluh tahun lalu, namun bukti konkret mengenai peringatan itu selalu dinyatakan masih kurang atau tidak ilmiah.

Nama Zat Pewarna dan Penyakit yang ditimbulkan :

1. Rhodamin B (pewarna tekstil): Kanker dan menimbulkan keracunan pada paru-paru, tenggorokan, hidung, dan usus.

2. Tartazine: Meningkatkan kemungkinan hyperaktif pada masa kanak-kanak.

3. Sunset Yellow: Menyebabkan kerusakan kromosom

4. Ponceau 4R: Anemia dan kepekatan pada hemoglobin.

5. Carmoisine (merah): Menyebabkan kanker hati dan menimbulkan alergi.

6. Quinoline Yellow: Hypertrophy, hyperplasia, carcinomas kelenjar tiroid.

Cara Menghindari Penggunaan Zat Warna Buatan Dalam Produk Makanan

1. Setiap kali membeli produk makanan, baca jenis dan jumlah pewarna yang digunakan dalam produk tersebut.

2. Perhatikan label pada setiap kemasan produk. Pastikan di label itu tercantum izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang tertulis: “POM dan Nomor izin pendaftaran”. Atau jika produk tersebut hasil industri rumah tangga maka harus ada nomor pendaftarannya yang tertulis : “ P-IRT dan nomor izin pendaftaran”.

3. Untuk produk makanan yang tidak dikemas secara khusus, sebaiknya pilih makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok, karena kemungkinan warna tersebut berasal dari bahan pewarna bukan makanan (non food grade) seperti pewarna tekstil.

Kesimpulan:

Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni pewarna alami dan pewarna buatan. Pewarna alami diperoleh dari tanaman ataupun hewan yang berupa pigmen. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: klorofil (terdapat pada daun-daun berwarna hijau), karotenoid (terdapat pada wortel dan sayuran lain berwarna oranye-merah). Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi.

Bahan perwarna dapat membahayakan kesehatan bila pewarna buatan ditambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan, atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama. Maka dari itu, berhati-hatilah memilih makanan yang mengandung zat pewarna agar kita terhindar dari penyakit kanker dan penyakit berbahaya lainnya.


Penyusun :

Nur Ainiyah (101644208)

Novita Wahyu Styorini (101644243)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS